
BPBD Ponorogo melalui Pusdalops merilis rekapitulasi kejadian bencana hingga 30 November 2025, mencatat 179 kejadian yang tersebar di seluruh kecamatan. Tanah longsor menjadi bencana paling dominan dengan 96 kasus, disusul banjir 47 kasus, cuaca ekstrem 26 kasus, kebakaran hutan dan lahan 7 kasus, kekeringan 2 kasus, serta kebakaran gedung dan permukiman 1 kasus. Sejumlah kecamatan mencatat frekuensi bencana tinggi, seperti Kecamatan Pulung dengan 19 kejadian tanah longsor, Ngebel 15 kejadian, dan Ngrayun 16 kejadian. Balong melaporkan banjir terbanyak yaitu 17 kali, sementara Sambit dan Bungkal mengalami kombinasi bencana berupa banjir, longsor, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan. BPBD Ponorogo menyatakan bahwa tingginya angka tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya mitigasi, terutama memasuki puncak musim hujan. Data ini juga digunakan sebagai dasar penguatan kesiapsiagaan di masing-masing kecamatan agar penanganan bencana dapat lebih cepat dan tepat.(rh)
