
BPBD Ponorogo merilis rekapitulasi data kejadian bencana hingga 30 Juni 2025. Dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun ini, tercatat sebanyak 110 kejadian bencana yang melanda berbagai wilayah di Ponorogo.
Dari total kejadian tersebut, tanah longsor mendominasi dengan 59 kasus, disusul banjir sebanyak 41 kejadian, dan cuaca ekstrem sebanyak 10 kejadian.
Beberapa kecamatan tercatat sebagai wilayah dengan frekuensi bencana tertinggi. Kecamatan Slahung mengalami 15 kejadian, terdiri dari 14 tanah longsor dan 1 banjir. Disusul Balong dengan 14 kejadian banjir, dan Ngebel dengan 14 kejadian yang terdiri dari 12 tanah longsor dan 2 cuaca ekstrem.
Kecamatan lain yang juga mengalami dampak bencana cukup signifikan antara lain:
Bungkal: 11 banjir, 3 tanah longsor.
Sooko: 7 tanah longsor, 1 cuaca ekstrem.
Ngrayun: 11 tanah longsor, 1 banjir, 1 cuaca ekstrem.
Sawoo: 5 banjir, 2 tanah longsor.
Pulung: 5 tanah longsor, 1 cuaca ekstrem.
Kauman: 3 banjir.
Sementara beberapa kecamatan tercatat mengalami bencana dalam jumlah lebih sedikit, seperti Ponorogo, Babadan, Jambon, Sampung, Siman, dan Jetis.
BPBD Ponorogo terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan longsor dan banjir. Upaya mitigasi berbasis masyarakat dan penguatan sistem peringatan dini menjadi langkah penting guna mengurangi risiko bencana di masa mendatang.(rh)
